Memaknai Sumpah Pemuda

Kami putra-putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia
Kami putra-putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia
Bulan Oktober termasuk salah satu bulan yang bersejarah bagi bangsa ini. Setidaknya tercatat dua peristiwa sejarah bagi bangsa ini, Hari Kesaktian Pancasila dan Sumpah Pemuda. Meskipun kondisi politik tiap hari memanas, belum lagi dampak krisis dunia membuat keadaan negeri ini terasa kian terpuruk. Seberapa besar kita masih mengingat peristiwa Sumpah Pemuda? Mungkin kita yang sudah dewasa masih mengingat bagaimana cerita perjuangan hingga pahlawan kita bisa melahirkan Hari Sumpah Pemuda. Akan tetapi saat ini generasi muda bangsa ini justru melupakan makna Sumpah Pemuda itu. Perkembangan jaman tentu saja berdampak pada perkembangan pola pikir juga, tetapi tampaknya generasi muda bangsa ini justru tidak mengalami perkembangan pola pikir itu
Peranan pemuda dan organisasi kepemudaan merupakan fenomena baru pada abat ke-XX. Pada abad ini terjadi perubahan-perubahan karena masuknya ide-ide baru, sistem pendidikan, industrialisasi, yang ingin merubah tatanan masyarakat lama. Perubahan yang telah memporak porandakan tatanan lama itu ternyata belum diikuti dengan terwujudnya masyarakat baru. Dalam masyarakat yang demikian terjadilah krisis dalam pikiran golongan masyarakat termasuk pemudanya. Mereka mulai berpikir dan menanyakan posisi dirinya dalam arus perubahan zaman yang tidak menentu. Mereka mulai mencari identitas diri dan mencari jati dirinya demi menatap masa depanya yang selama ini dikungkung oleh generasi tua dan tekanan penjajah Belanda. Kelahiran Budi Utomo tanggal 20 Mei 1908 yang didirikan oleh mahasiswa Stovia merupakan ekspresi dan aspirasi kaum muda untuk mengambil peran dalam mengubah masyarakat ke arah kemajuan dengan semangat pemuda yang berkobar-kobar. Hal ini telah mengilhami munculnya gerakan-gerakan pemuda di Indonesia untuk masa selanjutnya. Gerakan-gerakan itu berkembang sedemikian rupa sehingga mengarah pada suatu kesapakatan nasional dalam bentuk sumpah bersama untuk satu nusa bangsa, tanah air, dan bahasa yang sama yaitu Indonesia. Sebuah fenomena sejarah yang merupakan momentum sangat penting dalam proses penguatan konsep wawasan kebangsaan Indonesia terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928. Dalam peristiwa ini modal yang sangat berharga bagi terbentuknya sebuah nation state telah disepakati. Hal yang paling utama bagi suatu bangsa adalah adanya kehendak bersama untuk bersatu, hal ini dapat mengatasi adanya alasan lain yang bersifat kedaerahan, kesukuan, keturunan, keagamaan, dan sejenisnya dengan tetap menghormati perbedaan perbedaan yang ada. Dengan kehendak bersatu bangsa Indonesia dapat menghadapi berbagai kendala. Sejak tangal 28 Oktober 1928 dunia dikejutkan oleh kemampuan dan kesanggupan bangsa Indonesia untuk bersatu padu dalam kemajemukan. Dengan Sumpah Pemuda, pergerakan kebangkitan nasional berusaha memadukan kebhinekaan dengan ketunggalikaan. Kemajemukan tetap ada dan dihormati, tetapi semangat perjuangan dan pengakuan bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu Indonesia sudah bulat. Demikian pula atas pengakuan bendera merah putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya, semangat persatuan semakin kuat dan nyata. Pengakuan atas keanekaragaman suku bangsa, keturunan, agama dan kepercayaan terhadap Tuhan, golongan, warna kulit, adat istiadat, kebudayaan, bahasa daerah tidak menghalangi niat untuk bersatu mengusir penjajah, bersatu untuk membentuk suatu negara yang merdeka bebas dari cengkraman penjajah. Dengan Sumpah Pemuda kita dapat mengatakan bahwa perbedaan primordial suatu kelompok budaya tertentu tidak berkembang menjadi dasar untuk berpolitik. Perbedaan antarbudaya tidak sampai kepada tingkat bernegara. Dengan adanya persatuan dan kesatuan nasional sejak dicetuskanya sumpah pemuda, di dalam diri bangsa Indonesia tidak ada lagi pengertian warga negara kelas satu dan kelas dua. Sumpah pemuda tidak mengikrarkan warga negara kelas satu atau kelas dua, mayoritas ataupun minoritas. Hal ini dibuktikan antara lain bahasa Jawa tidak dijadikan sebagai bahasa peratuan (nasional), padahal bahasa Jawa pada waktu itu digunakan sebagian besar masyarakat nusantara, tetapi justru bahasa melayu dijadikan sebagai bahasa nasional, yang kemudian berkembang menjadi bahasa Indonesia. Itu semua berarti wawasan kebangsaan Indonesia waktu itu tidak berdasarkan etnis lagi, serta tidak memandang hak dan kewajiban atas dasar perbedaan ciri-ciri eksklusif. Semangat pemuda untuk bersatu membangun suatu bangsa yang merdeka, merupakan idealisme yang kokoh dan realitas politik pada masa itu. Hal ini ada pada diri generasi muda sebagai akibat penindasan penjajahan. Di samping itu juga merupakan kesadaran para generasi muda khususnya pemuda terpelajar untuk membangun bangsanya menjadi bangsa yang merdeka, sejahtera, adil dan makmur. Idealisme sebagai suatu bangsa seperti tersebut di atas seharusnya dimiliki oleh generasi muda dan rakyat Indonesia sekarang ini. Namun realitas politik di era reformasi ini kesadaran sebagai satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa Indonesia sebagaimana diucapkan para pemuda mulai memudar yang digerogoti oleh sifat primordial.
Gejala desintegrasi sebagai suatu bangsa mulai nampak dalam masyarakat Indonesia, yaitu dengan banyaknya kerusuhan di daerah seperti di Maluku, Aceh, dan Irian Jaya. Kesemuanya itu sebagai akibat dari ketidakpuasan masyarakat di daerah terhadap pemerintah pusat dalam mendistribusikan bidang ekonomi dan politik serta implementasi sistem politik yang sentralistik dan otoriter yang didukung oleh kekuatan militer. Rakyat yang ada di daerah merasa ditindas dan diperlakukan tidak adil. Elit politik dan pejabat negara lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan golonganya, sehingga gejolak-gejolak yang ada di masyarakat tidak terselesaikan dengan baik. Akhirnya rakyat khususnya di daerah tidak memiliki kepercayaan terhadap pemerintah pusat (krisis kepercayaan ). Di samping faktor tersebut di atas sebagian media masa juga ikut andil dalam menciptakan konflik. Pemberitaan yang sepihak, tidak obyektif telah membangun opini publik yang salah., akhirnya membuat situasi konflik semakin memanas. Namun demikian, juga ada beberapa media yang memberikan informasi kepada masyaraktat secara adil dan obyektif, sehingga berita tersebut dapat membantu menyelesaikan konflik yang ada. Sedangkan dengan dibukanya kran demokrasi bagi rakyat memunculkan masalah baru yaitu banyaknya tuntutan akan hak namun kurang menyadari akan kewajibannya sebagai warga negara. Hal ini menimbulkan benturan antarkepentingan sesama warga negara maupun warga negara dengan pemerintah. Akibat lebih jauh adalah tuntutan dari berbagai daerah untuk merdeka, memisahka diri dari negara kesatuan Indonesia. Menurut para pengamat politik belum terlaksananya agenda reformasi disebabkan masih kuatnya sisa-sisa kekuatan orde baru yang berada di legeslatif maupun birokrasi pemerintah.
Di samping itu masih banyak faktor lain seperti kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas di partai politik yang sekarang duduk di DPR maupun DPRD yang merupakan wakil rakyat. Dalam era reformasi dan otonomi daerah saat ini muncul sikap egoisme kedaerahan seperti isu putra daerah. Bahkan untuk menduduki jabatan strategis seperti kepala daerah mereka menuntut harus dijabat oleh orang daerah (putra daerah). Satu sisi hal ini dapat dipahami karena orang- orang daerah dimasa lalu diperlakukan tidak adil oleh pemerintah pusat, maka tidaklah mengherankan kalau mereka bangkit untuk membangun daerahnya agar maju dan hidup sejahtera tidak tertinggal dengan daerah lain. Namun demikian, sikap egoisme daerah yang berlebihan tanpa di imbangi rasa kebersamaan sebagai satu bangsa Indonesia akan berakibat fatal dalam kehidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara .Dalam situasi dan kondisi demikian, dimungkinkan akan terjadi gesekan-gesekan antarwarga masyarakat yang prural Di dalam mengatasi permasalahan bangsa Indonesia maka diperlukan langkah-langkah antara lain
1. Pertama, kita perlu mengingat kembali makna dari Sumpah Pemuda, dimana saat itu pemuda tidak menonjolkan sifat kesukuan, kedaerahan dan sangat menghargai perbedaan agama, adat istiadat, bahasa daerah serta mengedepankan kebersamaan sebagai suatu bangsa. Kita harus menyadari bahwa bangsa ini dibentuk atas pluralisme dan bertujuan untuk kesejahteraan bersama. Idealisme tersebut haruslah dimiliki oleh generasi muda dan masyarakat Indonesia sekarang ini. Wujud cinta tanah air, bangsa dan negara dapat diwujudkan atau dilakukan sesuai dengan profesinya masing-masing.
2. Kedua, membangun kesadaran masyarakat untuk mencintai bangsa, negara dan tanah airnya melaui berbagai media masa dan penyuluhan.
3. Ketiga, sikap pro aktif dari pemerintah dan seluruh komponen masyarakat dalam menyelesaikan konflik dengan cara dialog untuk mencari akar permasalahan.
4. Keempat, menciptakan keadilan baik bidang politik, ekonomi, hukum serta bidang yang lain. Politik sentralistik otoriter harus diubah dengan sistem politik yang demokratis. Ekonomi yang terpusat dan di monopoli oleh sekelompok orang diubah ekonomi yang memihak pada rakyat kecil. Untuk mewujudkan hal tersebut otonomi daerah harus dijalankan dengan benar yang memihak pada rakyat sehingga kesejahteraan rakyat akan segera terwujud.
5. Kelima, Membangun kesadaran generasi muda melalui pendidikan (setiap mata pelajaran) khususnya Pendidikan Kewarganegaran untuk mencintai tanah air, bangsa dan negaranya. Dengan pendidikan ini diharapkan generasi muda menyadari akan hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya sebagi warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan kesadaran tersebut diharapkan tidak hanya menuntut hak namun lebih menyeimbangkan antara hak dan kewajibannya.
6. Keenam, keteladanan para pemimpin dan pejabat negara. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat patneralistik, untuk itu hendaknya para pemimpin yang duduk di legeslatif, eksekutif maupun yudikatif menyadari hal tersebut. Tindakan yang dilakukan haruslah dapat menjadi contoh masyarakat.
7. Ketujuh, mengambil tindakan yang tegas terhadap separatis. Hal ini harus di tindak tegas karena pada dasarnya tujuan utama dari separatis tersebut ingin merdeka dan memisahkan diri dari negara kesatuan RI, jika tidak di tindak tegas maka akan ada daerah lain yang akan mengikutinya
Di tengah berbagai krisis yang melanda negara dan bangsa kita, amatlah penting bagi kita semua untuk menyimak kembali arti penting hari yang bersejarah ini, dan berusaha menghayati maknanya bagi kelangsungan kehidupan kita bersama. Jika selama Orde Baru yang simbolik itu—Selama lebih dari 32 tahun Sumpah Pemuda diperingati dengan upacara-upacara yang kebanyakan dikemas dengan “lomba pidato”—Maka sudah saatnya sekarang Sumpah Pemuda itu diperingati dengan Sumpah Pemuda reformasi
Oleh karenanya, peringatan Sumpah Pemuda tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah yang melahirkannya. Karena jika demikian maka peringatan ini hanyalah sebuah seremornial belaka yang miskin makna. Jadi, “kebesaran” Sumpah Pemuda adalah adanya kenyataan bahwa ia merupakan produk bersama yang diciptakan oleh banyak orang dari berbagai suku, agama, dan aliran politik. Di antara mereka terdapat banyak orang-orang, yang telah mengorbankan diri dengan berbagai cara dan bentuk.
Sumpah Pemuda mengingatkan kita semua bahwa Indonesia ini adalah milik kita bersama, bersatu dalam perbedaan. Semua memiliki porsi dalam proporsinya masing-masing. Sumpah Pemuda telah meng-ikrarkan bahwa kita adalah satu bangsa, satu tanah-air dan satu bahasa. Tetapi, Sumpah Pemuda hanya bisa betul-betul dihayati atau dipatuhi, kalau semua merasa mendapat perlakuan yang adil. Sumpah Pemuda hanya bisa betul-betul diakui atau ditaati secara bersama dengan sepenuh hati, kalau semua merasa dihargai setara.
Pemuda sebagai generasi yang akan membawa kemajuan dan peradaban bangsa harus bersikap mengubah orientasi hidupnya. Sehingga karakteristik generasi bangsa abad-21 tecermin dalam beberapa hal.
1. Pertama, generasi baru itu harus menjadi pembaruan dari generasi sebelumnya, generasi bangsa yang mempunyai intelegensi tinggi, berwawasan luas serta berani mengambil risiko namun bukan sekedar mengandalkan insting saja melainkan melalui pengamatan serta metode observasi dari permasalahan yang sedang dihadapi.
2. Kedua, generasi baru itu harus dapat merancang dan berupaya tampil seperti asisten orang lain untuk menambah wawasan serta belajar dari pengalaman yang telah dialami oleh orang yang diikutinya, menciptakan banyak inovasi-inovasi baru yang mampu membantu pekerjaan orang lain, generasi baru itu harus bisa menjadi instruktur pelatih dan pengawas terhadap proyek yang sedang dikembangkan.
3. Ketiga, generasi baru itu harus sebagai penemu serta mampu mengembangkan inovasi-inovasi yang telah ada, atau bisa juga diartikan sebagai pemikir sistem-sistem yang menggabungkan antara kajian, mitos dan data-data yang telah ada sebelumnya.
4. Keempat, generasi baru tersebut harus memiliki visi dan misi yang mampu memajukan bangsanya di mata dunia melalui inovasi-inovasi baru yang ditemukannya. Serta mampu membantu melaksanakan visi bangsa dan negaranya serta memberi inspirasi bagi setiap lapisan masyarakat.
5. Kelima, generasi baru itu sudah saatnya menjadi agen perubahan yang berkemampuan mengembangkan pemahaman dan memiliki kompetensi tinggi dalam menciptakan dan mengolah perubahan bagi kehidupan bangsa agar dapat memajukan kesejahteraan bangsa.
6. Keenam, generasi baru itu adalah polychromic koordinator yang berupaya mengkoordinasikan banyak hal dalam waktu yang sama yang harus dapat bekerja bersama dengan orang lain.
7. Ketujuh, generasi baru itu berkemampuan untuk meningkatkan pelayanan kepada orang lain.
Dari ketujuh orientasi tersebut diupayakan agar generasi bangsa Indonesia memiliki generasi unggul sehingga menjadi maju dan berkembang di mata dunia. Dengan kata lain, agar generasi bangsa Indonesia menjadi maju dan berkembang harus mampu melahirkan inovasi-inovasi baru guna menyejahterakan hajat hidup orang banyak, memiliki kemampuan memanfaatkan sumber daya alam yang ada secara maksimal, dan mampu menggunakan teknologi yang sudah ada serta memiliki akhlakul karimah yang tinggi. Sehingga revitalisasi semangat Sumpah Pemuda dapat menjadi fondasi dan spirit bagi generasi kita untuk memajukan bangsa ini yang lebih bermartabat dan beradab. Semangat persatuan dan kesatuan dalam bingkai perjuangan bersama harus merupakan pemahaman yang jelas dan utuh. Harus diwaspadai penyusupan idiologi kapitalisme dan liberalism moderen yang terus merongrong independensi bangsa kita. Persatuan dan kesatuan serta perjuangan bersama harus dimaknai sebagai kesamaan semangat perjuangan dari berbagai elemen yang berbeda tanpa harus menghilangkan identitas asli masing-masing kelompok.
oleh Hayan, dari berbagai sumber
Iklan

One response to “Memaknai Sumpah Pemuda

  1. wah bagus banget artikelnya gan
    kami selaku generasi muda sngat terinsfirasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s